Menu

Mode Gelap

Audit Kebijakan · 16 Mar 2026 10:34 WIB ·

MBG Menjadi Legasi Terbesar Prabowo: Saatnya Presiden Turun Tangan Langsung Buka Hotline Aduan Nasional


 MBG Menjadi Legasi Terbesar Prabowo: Saatnya Presiden Turun Tangan Langsung Buka Hotline Aduan Nasional Perbesar

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak awal digagas sebagai salah satu pilar utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam membangun generasi emas Indonesia. Program ini bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan proyek peradaban yang menyangkut masa depan jutaan anak Indonesia.

Namun dalam beberapa bulan pelaksanaannya, publik mulai melihat berbagai masalah yang tidak bisa lagi dianggap sebagai persoalan teknis semata. Penutupan dapur SPPG, keluhan distribusi, hingga kasus anak-anak yang mengalami keracunan makanan menjadi alarm keras bahwa program besar ini membutuhkan pengawasan langsung dari pemimpin tertinggi negara.

Ketua Umum DPP Pasukan 08, Arfian D Septiandri, S.Kom, DBA, CCA, CCSA, CIISA, C.ED, menyatakan bahwa program MBG berpotensi menjadi legasi terbesar Presiden Prabowo, tetapi hanya jika pengelolaannya dijaga dengan disiplin, transparansi, dan pengawasan langsung dari Presiden.

“MBG bisa menjadi warisan terbesar Presiden Prabowo bagi bangsa ini. Tapi warisan besar tidak boleh dibiarkan berjalan dengan autopilot birokrasi. Presiden harus turun tangan langsung memastikan program ini berjalan benar,” tegas Arfian.

Menurutnya, sudah saatnya Presiden membuka hotline pengaduan nasional langsung kepada Presiden khusus untuk program MBG. Jalur aduan ini harus dapat diakses oleh masyarakat, sekolah, orang tua siswa, hingga pekerja dapur SPPG agar setiap masalah di lapangan bisa segera diketahui oleh pusat kekuasaan.

“Buka hotline langsung ke Presiden untuk MBG. Biarkan rakyat melapor tanpa birokrasi berlapis. Dengan begitu Presiden bisa mendengar langsung denyut lapangan, bukan hanya laporan yang sudah dipoles di meja kementerian,” ujarnya.

Arfian juga menyoroti berbagai klaim besar yang selama ini disampaikan oleh pengelola program MBG, termasuk pernyataan bahwa setiap anak mendapatkan 1 anak 1 lele, serta narasi bahwa belasan ribu sapi dipotong setiap hari untuk memasok kebutuhan protein program MBG.

Menurutnya, klaim tersebut harus diuji dengan data yang transparan dan pengawasan nyata.

“Jika benar setiap hari ada belasan ribu sapi dipotong dan didistribusikan untuk anak-anak Indonesia, maka itu adalah operasi logistik pangan terbesar dalam sejarah republik ini. Karena itu publik berhak mengetahui dengan jelas bagaimana rantai pasoknya, siapa yang mengelola, dan bagaimana kualitasnya,” kata Arfian.

Ia menegaskan bahwa program sebesar MBG tidak boleh dijalankan dengan pendekatan trial and error, apalagi jika akibatnya adalah kesehatan anak-anak Indonesia.

“Tidak boleh ada lagi cerita anak-anak keracunan makanan dari program MBG. Anak-anak bukan objek percobaan kebijakan. Program ini harus steril dari kesalahan yang membahayakan kesehatan mereka,” tegasnya.

Selain persoalan distribusi dan kualitas makanan, Arfian juga menyoroti faktor sumber daya manusia di dapur-dapur SPPG. Menurutnya, pekerja yang terlibat dalam program ini tidak boleh sekadar pekerja dapur biasa, tetapi harus memiliki kesadaran moral bahwa mereka sedang menyiapkan makanan untuk masa depan bangsa.

“Dapur SPPG harus diisi oleh orang-orang yang memiliki hati untuk anak-anak. Ini bukan sekadar pekerjaan memasak. Ini adalah amanah besar untuk memberi makan generasi masa depan Indonesia,” katanya.

Ia juga meminta agar seluruh dapur SPPG di Indonesia diaudit secara berkala, mulai dari standar sanitasi, kualitas bahan baku, hingga integritas pengelola.

Menurut Arfian, jika program MBG berhasil dijalankan dengan baik, dampaknya tidak hanya pada kesehatan anak-anak, tetapi juga pada ekonomi nasional, peternakan, pertanian, dan industri pangan lokal.

“MBG bisa menjadi ekosistem ekonomi nasional yang luar biasa besar. Petani hidup, peternak hidup, dapur rakyat hidup, anak-anak sehat. Tetapi itu hanya bisa terjadi jika sistemnya bersih, transparan, dan diawasi langsung oleh Presiden,” ujarnya.

Ia menutup pernyataannya dengan pesan langsung kepada Presiden Prabowo.

“Pak Presiden, program MBG adalah simbol keberpihakan negara kepada masa depan bangsa. Jangan biarkan legasi besar ini tercoreng oleh kelalaian, birokrasi lamban, atau permainan oknum. Turunlah langsung, buka telinga untuk rakyat, dan pastikan setiap piring makanan yang sampai ke tangan anak-anak Indonesia benar-benar aman, bergizi, dan bermartabat.”

Jika dikelola dengan benar, MBG tidak hanya akan dikenang sebagai program sosial, tetapi sebagai monumen kebijakan yang mengubah wajah masa depan Indonesia.

Artikel ini telah dibaca 34 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

THE BEATIFUL ONE

19 Maret 2026 - 22:51 WIB

Revolusi Hukum Digital Dimulai: Gagasan Besar Arfian D. Septiandri Guncang Paradigma UU ITE

18 Maret 2026 - 10:47 WIB

Ribuan Dapur MBG Ditutup: Alarm Keras untuk Pemerintahan Presiden Prabowo

16 Maret 2026 - 10:24 WIB

Lampu Jalan Padam, Harapan Warga Menyala: Ujian Nyata Program “Dalan Alus, Padang, Banyu Lancar” di Klaten

13 Maret 2026 - 19:48 WIB

Golkar Klaten Dorong Bupati Realisasikan Janji Politik, Infrastruktur Jalan Jadi Sorotan

12 Maret 2026 - 19:35 WIB

Generasi MBG di Persimpangan Masa Depan: Ketika Gizi Tak Tuntas dan Pendidikan Tertinggal

12 Maret 2026 - 17:11 WIB

Trending di Audit Kebijakan