Pesan Moral dari Ketua Umum DPP Pasukan 08
Jakarta — Bulan suci Ramadan selalu menjadi momentum refleksi spiritual bagi umat Islam di seluruh dunia. Tidak hanya tentang ibadah ritual seperti puasa dan tarawih, tetapi juga tentang introspeksi moral, keadilan sosial, dan tanggung jawab kekuasaan.
Ketua Umum DPP Pasukan 08, Arfian D. Septiandri, S.Kom, DBA, CCA, CCSA, CIISA, C.ED dalam refleksi Ramadannya menyampaikan bahwa Ramadan adalah waktu terbaik bagi para pemimpin dan pemegang kekuasaan untuk kembali mengingat hakikat kepemimpinan.
Menurutnya, kekuasaan dalam perspektif spiritual bukanlah simbol kemewahan atau privilese, melainkan amanah besar yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan dan rakyat.
“Ramadan mengajarkan kita bahwa manusia pada dasarnya sama. Ketika berpuasa, tidak ada perbedaan antara rakyat biasa dengan pejabat negara. Semua merasakan lapar, haus, dan keterbatasan yang sama. Di situlah letak pelajaran moral bagi pemegang kekuasaan,” ujarnya.
Kekuasaan Tanpa Empati Akan Kehilangan Makna
Dalam refleksinya, Arfian menegaskan bahwa salah satu bahaya terbesar dalam kekuasaan adalah ketika pemimpin kehilangan empati terhadap penderitaan rakyat.
Menurutnya, Ramadan justru mengingatkan para pemimpin untuk selalu dekat dengan realitas sosial masyarakat, terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.
“Puasa mengajarkan empati. Ketika seorang pemimpin masih mampu merasakan lapar rakyatnya, maka ia tidak akan mudah membuat kebijakan yang menyakiti masyarakat,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa kekuasaan yang tidak disertai empati berpotensi melahirkan ketidakadilan, kesenjangan sosial, dan kebijakan yang jauh dari kepentingan rakyat.
Ramadan dan Etika Kepemimpinan
Lebih lanjut, Arfian menilai bahwa Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki etika dalam praktik kekuasaan, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Nilai-nilai yang diajarkan Ramadan seperti:
kejujuran
pengendalian diri
kesederhanaan
kepedulian terhadap sesama
merupakan fondasi penting dalam membangun kepemimpinan yang bermartabat.
“Jika nilai-nilai Ramadan benar-benar dihayati oleh para pemimpin, maka korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan keserakahan kekuasaan tidak akan mendapatkan tempat,” tegasnya.
Kekuasaan Bersifat Sementara
Dalam refleksinya, Arfian juga mengingatkan bahwa kekuasaan bersifat sementara, sedangkan pertanggungjawaban moral bersifat abadi.
Menurutnya, sejarah telah menunjukkan bahwa banyak pemimpin yang gagal menjaga integritas ketika berada di puncak kekuasaan.
“Kekuasaan bisa datang dan pergi. Jabatan bisa berganti. Tetapi catatan sejarah dan pertanggungjawaban moral akan tetap melekat sepanjang masa,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh pemimpin bangsa untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum memperbaiki niat dan orientasi dalam menjalankan amanah publik.
Seruan Moral untuk Pemimpin Bangsa
Menutup refleksinya, Ketua Umum DPP Pasukan 08 tersebut menyampaikan pesan moral kepada seluruh pemimpin di Indonesia agar tidak melupakan nilai-nilai spiritual dalam menjalankan pemerintahan.
“Ramadan adalah pengingat bahwa kekuasaan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat. Pemimpin yang baik bukan yang paling kuat, tetapi yang paling amanah,” ungkapnya.
Ia berharap momentum Ramadan dapat memperkuat kesadaran moral para pemimpin bangsa untuk selalu menempatkan kepentingan rakyat, keadilan sosial, dan integritas di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Sebab pada akhirnya, Ramadan tidak hanya mengajarkan manusia untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan keserakahan dalam kekuasaan.










